hai,,hai,,,

gw cuma mencoba menjadi apa yang gw mau,,, gw pengen belajar nulis... dan disini mungkin yang baca bisa menilainya...

Selasa, 27 Desember 2011

Sabtu, 24 Desember 2011

semoga ini untuk bahagia ku

malam ini,,, aku ingin menangis...
entah apa yang membuat air mata ini keluar untuk kesekian kalinya....
aku hanya ingin menangis di malam ini..
semoga airmata ini bahagia untukku...

aku ingin menangis,,, ditempat yang bisa membuat aku tenang...
aku ingin menangis,, bersama angin malam yang membawa lari kejelekanku..
aku ingin menangis,,, bersama suara indah air mata yang membawa airmata kebahagiaan untukku...
aku ingin menangis,,, bersama pelukan indah yang sangat hangat dan nyaman...

kebahagiaan,,,, aku ingin menangis bersamamu....
aku ingin menangis untuk mendapatkanmu..
aku ingin menangis untuk membawa kesedihan bersama kita...
agar kesedihan itu menjadi kebahagiaan...
semoga ini untuk bahagiaku...
dan hanya itu yang ku mau...

Selasa, 06 Desember 2011

Setiap yang hilang, akan selalu ada yang datang…..

Kemarin, baru saja aku memulai hari baru di semester empat ini. Tidak ada yang menarik yang bisa aku ceritakan sih,, hanya saja, aku harus menjadi seorang yang bisa percaya diri untuk berbicara di depan orang banyak dan harus menjadi seseorang yang bukan menjadi diriku sendiri. Tidak perlu aku ceritakan disini aku menjadi siapa dan apa yang aku lakukan. Tapi yang harus diingat, ini semua sudah berjalan hampir dua tahun, maka aku harus bisa menjadi aku yang sekarang, dan menjadi anak yang bisa buat orang lain bangga, terutama orangtuaku sendiri.
Tak terasa, aku dapat melewati semua, padahal aku tidak memilih ini menjadi impianku. Ya,, meskipun hasilnya tidak memuaskan, bahkan baru saja du semester kemarin nilaiku menurun. Tapi aku harus tetap bersemangat untuk menjalankan tugasku. Aku berharap, bisa melakukan dan mendapatkan yang terbaik untuk orangtua, masyarakaat dan agamaku. Atau bahkan, ketika aku menikah nanti, aku akan melakukan yang terbaik untuk suamiku nantinya.
Menikah??? Ya, menikah, apa aku sudah siap untuk menikah? Dengan siapa aku akan menikah? Bagaimana nanti kehidupanku setelah menikah? Hmm,,, aku belum bisa menjawab, karena aku harus menyelesaikan kuliahku, daan aku harus memperbaiki diriku, agar calon suamiku nantinya tidak akan kecewa menerima diriku dengan segala kekuranganku.
Selesai sudah ku akhiri tulisan di buku harianku, tiba-tiba ku lihat seorang pria berdiri di depanku, maksudu didepan meja tempatku menulis. Dia terlihat seperti seorang pria berusia 23 tahun, dan sudah bekerja. Karena, wajah tampannya yang terlihat dewasa, terlihat berwibawa sekali. Tidak seperti mahasiswa jaman seekarang yang berpakaian urakan, meskipun tampang mereka pas-pasan.
“Hai, boleh duduk disini???” Suara pria khas yang sangat nyaman di dengar, tiba-tiba keluar dari mulutnya.
“Oh, boleh. Silahkan!” Aku pun mempersilahkan pria itu duduk didepanku. “Lucunya,,,” aku bergumam dalam hati, karena aku hanya berani mengucapkan itu dalam hati,, hehehe.
Aku pun bangun dari duduk, dengan tujuan mau mengambil buku novel yang ingin ku baca, karena sejak datang ke perpustakaan ini, aku langsung mencari tempat duduk, bukan mencari buku yenng ada di perpustakaan ini. Tapi, sepertinya, pria tadi salh mengartikan.
“Hei, kok pergi? Kenapa? Gak suka ya, aku duduk disini? Maaf, biar aku aja yang pergi, kamu kan udah dari tadi disini. Biar aku cari tempat yang lain!” Pria itu bangun dari duduknya, sambil mengangkat tasnya.
“Eh, enggak. Gue gak keberatan kok lo duduk disitu, gue cuma mau ngambil buku. Tuh, tas gw juga masih disitu! Nyantai aja kali!” Aku pun tersenyum memperlihatkan barisan gigiku yang rata. Padahal, sebenarnya aku agak keberatan pria itu duduk disitu, karena aku sedang ingin sendiri dan kebetulan perpustakaan kota yang biasa aku datangi saat itu sedang sepi, jadi aku bisa menjalankan misiku,, sendirian.. Tapi, berhubung pria itu bertampang manis dan lucu, dan dia juga kelihatannya baik, yang pastinya gak akan ganggu kesendirianku, akhirnya aku biarkan saja dia duduk satu meja denganku. Karena di perpustakaan ini, setiap satu meja, hanya ada dua kursi.
“Oh, aku kira kamu keberatan aku duduk disini.” Pria itu, yang belum aku tahu namanya, membalas ssenyumku dengan senyum manisnya dan memamerkan gingsul yang terselip manis dideretan depan antara gigi seri dan gigi taringnya. Menambah manis wajah tampan itu.
“Duduk lagi aja, gue cari buku dulu ya!”
“Oke, thanks ya..” Pria itu duduk kembali di bangkunya, dan menyimpan tasnya kembali di samping bawah kursi yang sedang didudukinya.
“Sama-sama. Gue nitip tas dulu ya!”                                                                                                                               
“Oke!”
Aku pun berjalan meninggalkan pria itu dengan buku yang dibacanya, serta tasku yang aku titipkan padanya. Segera ku berjalan menuju rak buku yang menyimpan deretan novel, mulai dari yang hanya terdiri dari puluhan lembar, sampai yang ratusan. Setelah cukup lama berdiri dan melihat novel-novel yang berjejeran, akhirnya aku mengambil sebuah novel yang cukup tebal dan lumayan menarik perhatianku. Setelah ku baca sinopsis dibelakang buku tersebut, aku pun berjalan kembali menuju tempat dudukku yang tadi ku tinggalkan. Dan pria itu masih terduduk manis membaca buku yang ada di hadapannya, membuatku semakin tertarik ingin mengenalnya.
“Udah dapet bukunya?” Pria itu mengangkat kepalanya, menyadari kehadiranku dihadapannya.
“Udah, nih!” Aku menunjukkan novel yang akan aku baca.
“Oh, suka novel juga?” Aku hanya menganggukkan kepala, dan tersenyum. Sepertinya pria itu mengerti, aku sedang tidak ingin di ganggu, dia pun tidak melanjutkan pertanyaannya, dan kembali tenggelam dalam bacaannya.
Aku memulai untuk membaca novel yang ku pilih. Sejenak aku sedikit termenung, membaca sebuah kalimat dalam novel tersebut. Sebuah kata pengantar, biasa saja kelihatannya, namun saat ku baca ada sesuatu yang tersirat dihatiku. Biasanya sih, setiap aku membaca sebuah novel, aku tak pernah membaca kata pengantar lebih dulu, sebelum aku selesai membaca isi novel tersebut. Tetapi, ketika melihat rangkaian tulisan berjudul kata pengantar yang ada dihadapanku, aku merasa begitu ingin membacanya.
“Sebagai bukan penggemar sastra, saya sangat beruntung menjadi bagian dalam novel ini. Saya merasa senang, dan bangga, anakku di usianya yang masih muda sudah bisa menjadi novelis terkenal seperti sekarang. Padahal awalnya saya merasa keberatan untuk memberikan izin kepadanya membuat tulisan seperti ini. Karena, usianya yang masih muda, dia harus belajar dengan sungguh-sungguh. Namun, diam-diam ternyata dia selalu mencuri-curi waktu untuk menulis, sampai-sampai kami sekeluarga tidak ada yang mengetahui sejak kapan dia mulai menulis, karena dia tidak pernah menunjukkan bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu. Bahkan, nilai-nilainya pun tidak pernah jelek, selalu bagus.”
“Sampai akhirnya, dia mulai mendatangi penerbit yang ada di jakarta, untuk menerbitkan novelnya. Salah satu penerbit menerima ceritanya dengan tangan terbuka, bahkan, langsung diterima dan akan segera diterbitkan. Tapi, anakku minta waktu satu minggu dulu untuk meminta izin pada saya dan keluarga yang lain. Awalnya, saya ingin langsung menolak, dengan alasan bagaimana jika nanti buku ini  diterbitkan, dan nilai-nilai sekolahnya menurun? Karena sudah terlalu sibuk dengan dunianya menjadi novelis. Tapi dia tetap meyakinkan saya untuk mengizinkannya menerbitkan novel ini, dan berharap saya mau membacanya lebih dulu. Akhirnya, saya pun mengalah, saya hargai kegigihannya. Saya pun membaca novel, yang dia berikan. Di halaman pertama saya mulai tertarik, bahkan belum mebuka halaman berikutnya, akhirnya saya memutuskan untuk mengizinkan dia menerbitkan novel ini, sekaligus mengizinkan dia untuk menjadi novelis seperti cita-citanya.”
Aku terus membaca kata pengantar itu sampai baris akhir. “SEMANGAT TERUS UNTUKMU NAK, AYAH DAN BUNDA SELALU DISISIMU UNTUK MENDOAKAN DAN MENDUKUNGMU DALAM HAL APAPUN. KAU LAH HARAPAN DAN IMPIAN SERTA KEBAHAGIAAN KAMI!”. Tanpa sadar, tiba-tiba aku meneteskan air mata, aku menangis?. Ya, aku menangis setelah membaca kata pengantar dalam novel itu. Tapi aku langsung mengusap airmata yang menetes, sebelum pria didepanku dan orang-orang di perpustakaan ini melihatku menangis.
“Hei, kamu sudah beres baca novelnya?” Tiba-tiba suara pria itu terdengar lagi.
“Eh, belum! Tapi, kayaknya gw baca di rumah aja. Duluan ya!” Aku membereskan tasku, dan bangun dari tempat dudukku.
“Oh, aku juga mau pulang! Mudah-mudahan bisa ketemu lagi ya!” Aku hanya tersenyum dan pergi ke meja penunggu perpustakaan ini, untuk mendata diriku bahwa aku meminjam buku disini.
******

“Assalamualaikum,,!” Sesampainya di depan pintu rumah, aku pun mengucapkan salam.
“Walaikumsalam!” Suara cowok?? Tapi bukan suara Ayah. Kalau Mas Rama ga mungkin, dia kan lagi kerja di luar kota. Dan biasanya kalau mau pulang dia bilang dulu sama aku! Fikirku dalam hati. Aku pun membuka pintu, dan melihat seorang pria duduk membelakangiku di ruang tamu.
“Mas Rama??” Aku segera memeluk pria dihadapanku dan melepas rindu.
“Rana,,!!! Mas, kangen sama kamu. Aku tidak berkata apa-apa hanya mempererat pelukanku.
“Mas Rama kok ga bilang sama Rana kalau mau pulang??” akhirnya ku lepaskan pelukan itu, setelah aku merasa tenang rinduku telah terobati.
“Mas sengaja gak bilang kalau mau pulang hari ini sama kamu.”
“Mas jahat!” Aku memasang wajah cemberut.
“Maaf ya, sayang! Mas, Cuma pengen kasih surprise buat kamu aja!” Mas Rama, kakakku satu-satunya dan yang paling aku sayang kembali memelukku.
“Nih, Mas bawain kamu boneka sapi kesayangan kamu!” Sambil melepaskan pelukkannya, Mas Rama memberikan boneka sapi yang lucu dan besar.
“Mas nyogok Rana? Biar Rana gak marah? Sorry ya,, gak terima sogokkan!” jawabku sambil memalingkan muka.
“Oh, jadi, adik Mas yang ndut ini marah?? Hmm,, ya udah deh, kalau gak mau, di kasih ke tetangga aja!”
“Ih, Mas kok gitu? Bukannya maksa Rana, buat nerima Bonekanya, malah mau dikasih ke tetangga?”
“Ngapain? Sayangkan kalau nanti malah gak di simpen baik-baik!”
“Tapi kan Rana mau bonekanya!” aku merebut boneka sapi yang berukuran bantal dengan bulu yang lembut.
“Katanya gak mau?” Mas Rama menggodaku. Aku pun kembali tersenyum, karena kakakku tidak pernah berubah, selalu menyayangiku sepenuh hati!
“Nah, gitu dong, senyum, kan manis! Masa Kakaknya pulang, di cemberutin?” Mas Rama mengusap-usap rambutku penuh kasih sayang, seperti biasanya. Menandakan bahwa dia benar-benar menyayangiku.
“Makasih ya, Mas! Rana sayaaannnggg sama Mas Rama!” Aku mencium kedua pipi Mas Rama.
“Iya, Mas Rama juga sayang banget sama Rana!” Mas Rama membalas dengan mengelus rambutku, sebagai tanda bahwa dia menyayangiku .
“Hei, sudah! Kangen-kangenannya nanti lagi, kamu kan baru pulang! Mandi dulu sana, terus makan! Kasian Mas Rama daritadi belum makan nungguin kamu pulang!” Tiba-tiba mama muncul.
“Iya, nih! Laper tau!!” Mas Rama mencubit pipiku.
“Lagian,, suruh siapa? Wle,,” Aku segera berlari menuju kamar, sebelum pipiku dicubit lagi untuk kedua kalinya.
Aku pun mandi dan mengganti pakaian. Kemudian menuju ruang makan, karena Mas Rama sudah menungguku disana. Kami pun makan bersama, karena Ayah dan Ibuku sudah makan, aku hanya makan berdua bersama Mas Rama. Selesai makan, kami menonton TV bersama di ruang keluarga. Tapi bukannya menonton acara di TV, kami berdua sibuk bertukar cerita. Aku menceritakan liburan semesterku tanpa Mas Rama, karena saat aku libur Mas Rama tidak pulang ke Bogor. Begitu juga Mas Rama, menceritakan Pekerjaan barunya di luar kota.
Mas Rama memang memilih kuliah dan bekerja di luar kota. Usianya kini 22 tahun, beda tiga tahun dengan usiaku. Tapi, di kantornya, dia telah mendapatkan prestasi yang cukup baik, dan diberikan jabatan terbaik juga di kantornya oleh atasannya.  Karena Mas Rama orang yang baik sama semua orang, teman-teman di kantornya juga banyak yang menyukainya, baik cowok maupun cewek. Apalagi, dengan tampang Mas Rama yang memang sedap di pandang, bisa di bilang ganteng, hampir semua cewek di kantornya pengen jadi pacarnya. Tapi, Mas Rama tidak mau memilih salah satu diantara mereka, karena Mas Rama tidak ingin mencari pacar yang hanya ingin bermain-main. Cerita-cerita itu aku dapatkan dari Mas Rama, karena Mas Rama selalu menceritakan setiap apa yang dialaminya, begitu juga sebaliknya. Aku juga selalu menceritakan apa yang aku alami, karena hanya dengan Mas Rama aku bisa terbuka. Tidak lupa, aku pun menceritakan tentang pria yang aku temui tadi siang di perpustakaan kota, dekat rumah. Selain aku bisa terbuka dengan Mas Rama, aku pun bisa belajar tentang semua hal baik pelajaran ataupun tidak. Karena Mas Rama punya wawasan yang luas, dari hobi membacanya. Aku juga sebenernya senang membaca, tapi buku yang aku baca semuanya novel, kadang-kadang buku kuliah. Hehehe,,, Kalau Mas Rama, hampir semua jenis buku bisa dia baca habis, mulai dari koran berita sampai komik anak-anak yang bergambar.
***

Aku duduk di dekat jendela seperti biasa, memandang langit yang penuh bintang, sambil mendengarkan musik-musik kesukaanku. Tiba-tiba, Mas Rama masuk ke kamarku.
“Mas, Rama? Ada apa?” aku membalikkan badan.
“Pengen liat kamar kamu! Udah lama banget rasanya  Mas gak liat kamar kamu! Mas kangen liat kamar kamu, main di kamar kamu, bercanda sama kamu!”
“Mas Rama kenapa? Kok kayak mau ninggalin aku lama banget sih?”
“Ga apa-apa! Mas Cuma kasian sama kamu, Ayah, Ibu. Kalau Mas gak bisa pulang lagi gimana?”
“Mas Rama ngomong apa sih?”
“Mas Rama gak mau kehilangan kamu, Ayah, Ibu! Mas sayang sama kalian! Mas gak bisa jauh dari kalian!” tiba-tiba aku meneteskan air mata. Aku sangat terharu dan sedih mendengar cerita Mas Rama.
“Rana juga gak mau kehilangan Mas Rama. Mas Rama kenapa sih? Rana takut!” aku menangis dan memeluk Kakakku satu-satunya yang paling aku sayangi.
“Rana, Mas minta maaf, kalau Mas Rama punya salah sama Rana. Mas Rama minta maaf, kalau selama ini gak bisa jagain Rana. Mas Rama juga minta maaf, kalau selama ini Mas udah sering ngecewain kamu, karena Mas gak pernah ngertiin perasaan kamu!” Mas Rama memelukku erat, sambil mengelus kepalaku.
“Mas gak pernah ngecewain Rana. Mas Rama selalu kasih yang terbaik buat Rana. Mas Rama selalu jadi tempat curhat Rana. Mas Rama gak sekalipun pernah bikin salah sama Rana. Rana yang selalu bikin Mas Rama kesel dan kecewa. Rana yang gak pernah ngerti Mas Rama selalu capek kalau pulang dari Bandung, tapi Rana gak pernah ngasih kesempatan untuk Mas Rama istirahat dulu, Rana selalu minta oleh-oleh dari Mas Rama, kalau Mas Rama mau pulang dari Bandung!”
“Mas Ikhlas, memang itu tugas seorang kakak buat adiknya. Rana, Mas Rama sayang sama Rana! Rana janji sama Mas Rama ya, jangan kecewain Ibu sama Ayah!”
“Rana janji,, akan selalu janji buat jagain Ayah sama Ibu, kalau Mas Rama ada di Bandung!” Aku melepas pelukkan Mas Rama, dan menatap dalam-dalam mata Mas Rama berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya dialami kakak kesayanganku ini.
Mas Rama tersenyum padaku, dan membalas menatapku tajam. Dimatanya, terlihat ia sedang berduka. Dia sedang menyimpan kesakitan yang amat dalam, namun ia berusaha keras untuk menutupinya. Tapi Mas Rama gak pernah bisa menyembunyikan apapun dariku, karena aku tahu segala sesuatu yang dia alami. Aku selalu mengetahui setiap hal yang dia sembunyikan.
“Mas Rama sakit?” Aku mencoba mencaritahu apa yang sebenarnya sedang dialami Mas Rama.
“Maaf Rana. Mas sayang sama Rana. Mas takut pergi ninggalin kamu!”
“Mas jangan ngomong kayak gitu! Rana gak akan ngebiarin Mas Rama ninggalin Rana. Ayah sama Ibu juga pasti gak bakalan biarin Mas Rama pergi dari kita!”
“Mas Rama sakit! Mas Rama bisa pergi kapan aja, Allah menginginkan Mas Rama pergi!”
“SAKIT??? Memangnya Mas Rama sakit apa? Rana bantu biar Mas Rama cepet sembuh!”
“Gak bisa! Sakit Mas Rama gak akan bisa disembuhin. Bahkan, dengan obat yang paling mahal sekalipun!”
“Semua penyakit ada obatnya Mas! Rana yakin itu!” aku meyakinkan diriku sendiri, pasti ada obat yang bisa menyembuhkan Mas Rama dari sakit apapun itu. Sekalipun obat itu akan menghabiskan seluruh tabunganku, aku harus bisa menyembuhkan Mas Rama.
Lalu, Mas Rama mengajakku duuduk disamping tempat tidur. Dia mulai bercerita, apa yang sebenarnya sedang dialaminya. Ternyata, sebuah musibah tengah dialaminya, dan itu membuat Mas Rama hampir pergi selamanya saat itu juga. Untungnya, Allah masih sayang sama Mas Rama, sehingga Mas Rama diberikan kesempatan hidup untuk bertemu dengan Aku, Ayah dan Ibu lagi.
Tapi, ternyata, setelah kejadian itu, Mas Rama tidak benar-benar sembuh total. Kecelakaan yang cukup parah itu membuat adanya gumpalan darah di dalam batang otaknya. Menurut Dokter yang merawatnya saat itu di Bandung, Hal itu, bisa membuat Mas Rama tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi. Meskipun dilakukan operasi, untuk mengeluarkan gumpalan darah tersebut, kemungkinan hidup hanya dua puluh persen, bahkan bisa kurang dari itu.
“Makannya, kenapa Mas Rama baru bisa pulang! Mas Rama harus menginap di Rumah Sakit selama tiga bulan. Dan satu bulannya lagi, Mas Rama gunakan untuk berusaha terlihat tidak sakit jika Mas pulang. Ternyata, usaha Mas berhasil kan?” Mas Rama tersenyum.
“Berhasil apanya? Mas sakit parah! Rana gak mau kehilangan Mas Rama!”
“Rana, Memang Mas Rana akan ninggalin Rana. Tapi Mas Rama janji akan selalu jagain Rana, dan tetap ada di rumah ini untuk Rana, Ayah sama Ibu. Mas Rama juga takut kalau saatnya tiba, Mas Rama gak bisa bersama dengan kalian lagi. Tapi Mas Rama janji, gak akan ada yang bisa misahin Mas Rama dengan Rana, Ayah ataupun Ibu, meskipun Mas Rama udah gak ada di dunia ini lagi.”
“Janji ya? Rana Sayang sama Mas Rama! Rana gak mau jauh dari Mas Rama!”
“Rana, peluk Mas Rama!” akupun memeluk Mas Rama dengan erat, tanpa ada rasa ingin melepaskan pelukkan itu.
“Rana dengar suara detak jantung Mas Rama? Apa Rana dengar disana ada  berjuta kata sayang dari Mas Rama untuk Rana? Apa Rana dengar setiap yang diucapkan hati Mas Rama hanya untuk Rana, Ayah sama Ibu?”
“Iya, Rana dengar semuanya!” aku pun menangis di pelukkan Mas Rama.
“Semua itu akan selalu ada di dalam rumah ini. Jadi,, Mas Rama gak akan jauh dari Rana, Ayah, ataupun Ibu. Mas Rama akan selalu ada disini. Di rumah ini!” aku mempererat pelukanku, Mas Rama pun mencium keningku.
***

Setelah cerita duka yang Mas Rama bawa untuk Aku, Ayah dan Ibu. Kasih sayang dan cinta dirumah ini semakin begitu kental terasa. Mas Rama memilih untuk berhenti kerja di tempat kerjanya yang di Bandung, dan mencoba mencari kerja di Bogor. Di kota tempat kami tinggal. Mas Rama pun lebih sering berada dirumah, karena dia tidak bolak-balik lagi ke Bandung, dan baru pulang saat hari besar atau cuti bersama. Kadang-kadang, Mas Rama menyempatkan diri menemaniku ke perpustakaan kota yang sering aku datangi jika ada waktu luang.
“Rendi? Lo sekarang disini?” Mas Rama menyapa seorang pria di perpustakaan kota. Aku fikir itu adalah temannya.
“Rama? Kemana aja? Iya, gw baru pindah disini. Selesai kuliah, gw di Bandung nganggur! Seminggu kemaren gw mutusin buat ke Bogor. Alhamdulillah, sekarang dapet kerja.” Pria yang di panggil Rendi, menyalami Mas Rama. Aku tidak bisa melihat wajahnya, karena terhalang oleh rak buku.
“Ram, gimana keadaan lo sekarang? Kemaren, waktu lo di rawat, gw sempet ke rumah sakit. Emangnya sakit lo parah banget ya? Sampe ga sadarin diri seminggu?”
“Ya, namanya juga kecelakaan! Eh, lo tinggal dimana?” pria yang bernama Rendi menyebutkan salah satu kota yang dekat dengan perpustakaan ini juga. Itu artinya, rumah dia dan rumah aku dekat.
Semakin lama mendengar perbincangan mereka, aku semakin penasaran. Mas Rama dan Rendi pun bercerita banyak mengenang masa-masa kuliah mereka di Bandung. Rupanya, mereka satu kampus dan satu kelas. Semakin lama, aku merasa ada yang aneh dalam perbincangan itu. Bukan masalah apa yang lagi mereka bicarakan, tapi suara pria teman bicara Mas Rama. Sepertinya, aku mengenal suara itu. Aku mencoba memastikan apakah benar, suara itu yang dimiliki pria yang aku temui di perpustakaan ini seminggu yang lalu? Tiba-tiba handphoneku berbunyi,,
“Rana, sini! Ada yg mau Mas Kenalin!” sms dari Mas Rama. Maklum, di perpustakaan gak boleh teriak-teriak.
Aku pun segera berjalan ke tempat Mas Rama dan Rendi berada. Sesaat aku terdiam melihat seorang pria yang berada disebelah Mas Rama. Pria itu yang ku jumpai seminggu yang lalu. Teernyata Mas Rama kenal dengan pria itu.
“Rana, ini Rendi! Teman Mas Rama, waktu kuliah di Bandung! Ren, ini adek gw yang pernah gw ceritain dulu, Rana!” Mas Rama mengenalkan aku dengan Rendi.
“Hei, minggu lalu kita pernah ketemu kan?”
“Iya!” aku mengangguk. Aku merasa Malu dan senang. Malu, karena ternyata Rendi ini temannya Mas Rama. Senang, karena aku bisa bertemu dengan pria lucu ini lagi.
Akhirnya kami pun meninggalkan perpustakaan ini, dan memilih untuk pergi ke Cafe dekat taman kota. Mas Rama dan Rendi bernostalgia, aku hanya menjadi pendengar setia mereka sambil sesekali memandang wajah tampan yang manis itu. Hihihi,,,, sepertinya???? Ngaco! Di temen Kakak kamu, Na. Gak mungkin kamu suka sama dia. Aku pun berbisik dalam hati.
“Ren, gw boleh minta tolong sama lo?” tiba-tiba Mas Rama mengagetkanku, dengan keseriusaan kkata-katanya.
“Minta tolong apa? Insya allah, gw bakalan nolongin lo! Lo sahabat gw di kampus dulu! Masa gw gak mau nolongin sahabat gw?”
“Gw nitip Rana, adik gw! Gw gak tahu sampai kapan gw bisa ada didunia ini untuk jagain dia. Gw juga gak tahu siapa yang bakalan nemenin dia lagi, kalau gw udah pergi. Gw juga nitip keluarga gw, karena mereka yang paling gw sayang! Gw gak mau kehilangan mereka! Gw gak mau mereka kenapa-napa, setelah gw gak ada!” Rendi memandang Mas Rama heran. Aku pun hanya bisa diam dan mengerenyitkan dahi.
“Gw yakin, Cuma lo yang bisa ngelakuin itu! Gw yakin Cuma lo yang bisa gantiin gw jagain Rana adik gw, dan keluarga gw!”
“Emangnya lo kenapa? Mau pergi kemana? Kecelakaan lo waktu itu, bikin lo stress ya?” Rendi mencoba menenangkan dirinya, dan meyakinkan dirinya sendiri kalau Mas Rama Cuma bercanda.
Aauuww!” tiba-tiba Mas Rama memegang kepalanya, dan wajaahnya terlihat sangat pucat.
Aku panik! Dan memanggil nama Mas Rama, berharap Mas Rama akan baik-baik saja mendengar suaraku. Tapi hal itu tidak berhasil, Mas Rama malah pingsan. Semua pengunjung Cafe pun membantu kami membawa Mas Rama ke dalam mobil Rendi. Aku, memangku kepala Mas Rama yang terkulai lemah sambil menyebutkan nama Mas Rama. Aku tidak kuat menahan airmataku untuk tidak jatuh. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit aku menangis dan terus berdoa, berharap Mas Rama akan sadar.
Sesampainya di Rumah Sakit terdekat, Mas Rendi memanggil petugas Rumah Sakit untuk membawa Mas Rama. Mas Rama di bawa ke ruang ICU. Mungkin ini kedua kalinya Mas Rama memasuki ruangan itu, setelah kecelakaan di Bandung. Aku menelfon Ayah untuk ke Rumah Sakit, dan memberitahu keadaan Mas Rama. Tiba-tiba Rendi menghampiriku dan menanyaka apa maksud perkataan Mas Rama, sewaktu di Cafe tadi.
Aku pun menceritaka apa yang sebenarnya sedang dialami Mas Rama. Rendi sangat terpukul kelihatannya, mendengar penjelasan dariku. Dia pun berbisik dalam hati, “Gw pasti jagain keluarga lo! Terutama adik lo! Lo sahabat gw yang paling baik, dan gw ga bisa apa-apa buat ngebales kebaikkan lo sama gw, selain ngejagain keluarga lo!”. Tidak berapa lama, Ayah dan Ibu sudah tiba dihadapanku. Ibu menghampiriku dan memelukku.
Aku menangis dalam pelukkan Ibu, dan memikirkan kemungkinan terburuk yang pernah Mas Rama katakan. Ibu yang sangat mengerti perasaanku, hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Mas Rama dan menenangkanku. Ayah sejak datang, langsung berbicara dengan Rendi mencaritahu apa yang terjadi pada Mas Rama. Setelah mendengar penjelasan Rendi, tiba-tiba dokter yang menangani Mas Rama keluar dari ruangan.
“Bagaimana keadaan anak saya?” Ayah menghampiri dokter tersebut.
“Anak bapak, saat ini dalam keadaan koma! Kita berdoa bersama, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kita semua.”
“Rana pengen lihat Mas Rama!” Aku mencoba tenang, dan berharap diizinkan masuk.
“Silahkan, tapi harap tenang!” akupun segera memasuki pintu yang bertuliskan ICU!
“Mas Rama, ini Rana! Bangun Mas, Rana sedih lihat Mas Rama kayak ginni!” aku menghampiri tempat tidur Mas Rama yang dikelilingi alat-alat kedokteran yang memiliki berbagai selang dan semua alat-alat itu mengelilingi tubuh Mas Rama.
“Rama, bangun nak! Ayah dan ibu sayang sama kamu, sama Rana. Bangun ya!” Ibu memelukku dan menggenggam tangan Mas Rama seperti yang aku lakukan. Ayah pun memeluk kami berdua.
“Rama, gw yakin lo kuat! Lo bakalan tetap ada disini sampai kapanpun. Lo bakalan bangun, buat kita semua!” setelah agak lama aku dan yang lain mencoba membangunkan Mas Rama, tiba-tiba kurasakan gerakan tangan Mas Rama di genggaman tanganku.
“Rrraannna??” Mas Rama memanggil namaku.
“Iya, Mas. Rana ada disini.” Aku tersenyum melihat Mas Rama mulai mebuka mata. Sejuta harapan bergemuruh didadaku, berharap Mas Rama sembuh.
“Kamu baik-baik ya! Inget janji Mas Rama waktu itu!” Mas Rama bicara dengan terbata-bata.
“Rana janji, tapi Mas Rama juga janji, Mas Rama harus kuat!”
“Maaf, Rrana. Mas gak bisa janji sama kalian untuk tetap bertahan. Mas gak kuat! Sakit banget!” aku hanya bisa menangis mendengar kata-kata yang terucap dari mulut Mas Rama.
“Rendi!” tiba-tiba Mas Rama memanggil Rendi.
“Inget ya, lo harus jagain keluarga gw! Cuma lo satu-satunya yang bisa gw percaya!” Rendi hanya menganggukkan kepala dan menatap aku, dengan kasih sayang. Di matanya terbaca, bahwa dia akan menyayangiku seperti yang Mas Rama lakukan.
“Ayah, Ibu,, Maaf kalau Rama belum bisa bahagiain Ayah sama Ibu. Rama sayang sama kalian!” semua hanya bisa menangis.
“Maaf, Rama gak kuat lagi!” Mas Rama mengucap syahadat dan menyebut nama Allah. Tiba-tiba genggaman tangannya terlepas.
Ayah pun segera memanggil dokter. Dan setelah beberapa detik dokter memeriksa keadaan Mas Rama. Dokter pun hanya mengucapkan kedukaannya, dan berkata bahwa dia hanya berusaha sebaik-baiknya.
***

Sudah seminggu Mas Rama pergi, tapi sedih itu masih berada didalam rumah kami. Kini, tidak ada lagi yang masuk kekamarku dan bercanda denganku. Ataupun hanya sekedar berbicara. Rendi, yang berjanji pada Mas Rama untuk menjaga keluarga ini, menepati janjinya. Dia selalu ada untukku dan keluargaku. Dia selalu siap untuk menemaniku kemanapun aku inginkan. Dia selalu ada untuk keluargaku dalam 12 jam, karena tidak mungkin dia ada 24 jam untukku dan keluargaku.
Kini, sedikit demi sedikit aku sudah bisa menerima kepergian Mas Rama yang begitu cepat. Dengan adanya Mas Rendi, sekarng aku menyebutnya begitu, semuanya bisa berjalan dengan normal kembali. Mas Rama tetap akan ada dirumah ini, di dalam hatiku, karena tak akan ada yang bisa membuatnya menjauh dari keluarga ini. Mas Rendi aku anggap hanya menambah daftar keluarga yang aku bikin sehari setelah kepergian Mas Rama.
***

Sebulan sudah Mas Rendi mengisi hari-hari di dalam rumah ini bersama Ayah, Ibu dan Aku. Ayah dan Ibu merasa senang dengan kehadirannya di dalam rumah ini, untuk memenuhi janjinya pada Mas Rama. Ayah dan ibu meminta mas Rendi untuk tinggal bersama dirumah ini. Bukan hanya itu, ayah dan ibu juga meminta Mas Rendi untuk menikahiku, agar bisa menjaga keluargaku 24 jam. Awalnya aku agak keberatan, karena aku masih kuliah. Tapi, Ibu bilang akan menunggu sampai aku lulus, baru setelah itu menikah.
Mas Rendi rupanya memiliki keinginan yang sama dengan Ibu, ternyata dia ada memang memiliki perasaan padaku saat awal pertemuan itu. Dia pun berbicara dengan Ayah untuk melamarku terlebih dahulu, setelah aku lulus nanti, ia akan langsung menikahiku. Aku merasa bingung untuk menjawab setiap yang Ayah dan Ibu tanyakan, apakah aku setuju untuk menikah dengan Mas Rendi?. Di satu sisi aku malu, karena Mas Rendi sahabat Kakakku. Di sisi lain, aku senang, karena cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.

Minggu, 04 Desember 2011

gw pengen nulis...

gw ga begitu ngerti dengan dunia tulis menulis....
yang gw tau,, kalo lo mau nulis,,, gunain hati sama tangan lo buat nulis apa yang lo mau,,
dan yang gw tau,,, gw cuma pengen bisa nulis...
entah ini datang dari mana,, gw selalu coba buat bisa nulis,,,
tapi selalu "GAGAL" karena mood gw yang berubah di tengah-tengah, dan akhirnya gw ga nerusin tulisan gw...


BT,, pasti...
karena gw merasa,, qo gw bego banget ya,,
orang-orang bisa kenapa gw enggak...
setiap orang emang punya kemampuan yang beda-beda...
tapi gw seneng dengan nulis,, kenapa gw gak pernah bisa jadi penulis????


gw liat novel, blog penulis, karya mereka kayaknya bisa gw ikutin,,, tapi tiap gw mulai,, selalu "berakhir di tengah jalan".
gw pengen belajar dari mereka,,
gw pengen "ambil" sedikit otak mereka, biar gw masukin ke otak gw...
jadi gw bisa "kombinasiin" ide-ide n cara menulis mereka...
dan, tinggal nunggu hasil karya gw terbit...


seneng banget kalo gampang kayak gitu??
duduk, nulis, kirim, terbit, dapet uang....
huh,,, gw pengen bisa kayak mereka...
mereka yang terkenal lewat tulisannya...
mereka yang selalu ga kehabisan ide buat nulis...
mereka yang selalu bisa menikmati hasil tulisannya...
mereka yang selalu bisa tersenyum,, saat karyanya terbit, laku,, jadi jutawan.....

Sabtu, 22 Oktober 2011

doaku untuk sahabatku yang sudah dan akan menikah...

Ya Allah,,,,,
sahabatku akan menikmati hari bahagianya..
dimana dia akan menjadi seorang istri untuk calon suami yang dia pilih...
berikanlah kebahagiaan untuknya,,,
dan keluarganya sampai akhir hayatnya...
jadikan mereka keluarga yang Engkau restui dan sayangi..
jadikan mereka keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah...
jadikan mereka sebagai panutan yang baik untuk anak-anak mereka kelak....

Ya Allah,,,
kebahagiaan sahabatku,, adalah kebahagiaanku...
sedangkan kesedihannya,,, adalah teramat perih untukku...
jadikan calon suaminya sebagai seorang pria yang mampu membahagiakannya...
jadikan calon suaminya sebagai seorang imam yang mampu membimbingnya....
jadikan calon suaminya sebagai seorang ayah yang mampu mendidik anak-anaknya...
semoga mereka bahagia....



(doa ini untuk semua wanita yang akan menikah,,, dan juga untuk pria yang akan menikahi..... semoga aku juga mendapatkan seseorang seperti yang ada dalam doaku... amiiinnnnn)

Senin, 26 September 2011

happy b'day...

mungkin gw nulis ini, belum saatnya...
masih beberapa jam lagi untuk menyebutkan bahwa gw berumur 21 tahun...
di umur gw yang 21 ini,, gw punya banyak harapan dan mimpi...
pertama, gw udah lulus kuliah.. kudu nyari kerja, pengen dapet kerjaan yang berkenan...
kedua,, hey,, gw masih jomblo,,, dan belum pernah ngerasain pacaran.... pengen punya cowo yang bakalan jadi suami gw sampai akhir hidup gw.... seorang pria dewasa yang bertanggung jawab dan GA BANYAK OMONG!!!! selalu buktiin apa yang jadi ucapannya,.,. pengen yang romantis, humoris, optimis, eksis... hehehe
ketiga,,, gw udah ngebahagiain orang tua gw belum ya??? pengen bikin mereka selalu bangga dengan apa yang gw lakuin...
yang pasti gw pengen kebahagiaan di umur gw yang 21 tahun...
pengennya di kasih kejutan yang indah,,, tapi ya sudahlah... nasib gw... heehehe
pokoknya yang terbaik buat gw, keluarga gw... dan semua yang ada disekeliling gw....

Kamis, 25 Agustus 2011

ga nyangka....

gw ga nyangka,,, apa mungkin secepat ini???
gw ga kenal,, gw belum pernah ketemu....
tapi setiap dia ngomong masalah "nikah"
selalu bikin gw sakit perut....

apa yang sebenernya terjadi...???
hihihi
apa emang, setiap cewe selalu mengalami hal kaya gini,, kalo ada yang ngajakin nikah ya???

Sabtu, 13 Agustus 2011

o' sole mio.......


Bahasa Napoli
Che bella cosa e' na giornata 'e sole
n'aria serena doppo na tempesta!
Pe' ll'aria fresca pare già na festa
Che bella cosa e' na giornata 'e sole
Ma n'atu sole,
cchiù bello, oje ne'
'O sole mio
sta 'nfronte a te!
'O sole, 'o sole mio
sta 'nfronte a te!
sta 'nfronte a te!
Quanno fa notte e 'o sole se ne scenne,
me vene quase 'na malincunia;
sotto 'a fenesta toia restarria
quanno fa notte e 'o sole se ne scenne.
Ma n'atu sole,
cchiù bello, oje ne'
'O sole mio
sta 'nfronte a te!
'O sole, 'o sole mio
sta 'nfronte a te!
sta 'nfronte a te!
Terjemahan Bahasa Inggris
What a beautiful thing is a sunny day,
The air is serene after a storm
The air's so fresh that it already feels like a celebration
What a beautiful thing is a sunny day
But another sun,
that's brighter still
It's my own sun
that's upon your face!
The sun, my own sun
It's upon your face!
It's upon your face!
When night comes and the sun has gone down,
I almost start feeling melancholy;
I'd stay below your window
When night comes and the sun has gone down.
But another sun,
that's brighter still
It's my own sun
that's upon your face!
The sun, my own sun
It's upon your face!
It's upon your face!

Rabu, 10 Agustus 2011

"mana undangannya??"

hah??? undangan??
undangan apa???
itu yang ada difikiran gw, saat seorang dosen gw bertanya tentang hal itu...
waduh,, ngomongin apaan ni dosen??? emang siapa yang mau nyebarin undangan???
undangan apa juga gw ga tau...
undangan wisuda?? loh,, bukannya itu dari kampus buat ortu gw??? kenapa nanyanya ke gw??
emang tu dosen, nyokap gw?? nanyain undangan buat ikut ke SABUGA???
hello,,, dosenkan dapet undangan sendiri,, n bukan dari mahasiswa...
tapi,,tapi,,,,

"iya, kan?? kayanya deket" ini deh, ratna..."
waduh,, makin curiga gw.. ternyata...
undangan married???
ya ampun,,, gw sih cuma bisa "amin"in doanya aja...
tapi kan, calonnya belum ada,, mana mungkin gw nyebarin undangan...
hahaha... ada-ada aja...
hmmm,,, tapi ngomong-ngomong...
apa bener, ya??? hihihi jadi malu...


nikah dulu?? kerja dulu ya?? makan aja dulu deh... hahaha
(aduh,, ngoceh ga jelas deh..) :)

Sabtu, 06 Agustus 2011







hmm,,, mau kesini buat foto prewed... hahaha

Kamis, 09 Juni 2011

kangen....

pengen punya baby.... hihihihi....


baby yang endut n ngegemisin kaya gini....
gw suka...
tapi sayangnya,, ini bayi orang....
hehehe

kau bukan milikku

Kau bukan milikku, dah ku tahu segalanya…
Namun hati ini dah terukir namamu…
Mana mungkin aku mampu hapuskan
Ukiran namamu dihatiku…
Pedihnya sekadar menjadi penyinta bisu,
Lebih pedih bila tahu kau milik seseorang…
Aku tak mampu lakukan apa-apa…
Hatimu tak mungkin dapat kutakluki…
Aku sedar hati aku milikmu….
Tapi hatimu miliknya…
Jangan hantui hidupku lagi dengan
Bayanganmu…kerna hatiku luluh…
Jangan muncul dalam kotak ingatanku…
Walaupun hidupku bakal bergelap tanpa dirimu…
Tapi biarlah…
Daripada aku terus berendam air mata…
Sesuatu yang bukan milikku…
Takkan pernah jadi milikku…
Selamanya…
Maafkan aku kerana terlalu menyayangi insan
Sepertimu…
Maafkan aku kerana terlalu mengimpikan
Dirimu jadi milikku…
Moga kau bahagia bersamanya…
Selamanya…

Jumat, 27 Mei 2011

belum juga...

sampai saat ini gw belum juga nemuin cowo yang bener" sayang sama gw...
gw belum nemuin cowo yang ga liat fisik gw, tapi liat hati gw..
cowo yang tulus cinta sama gw..
cowo yang juga sayang sama keluarga gw..
cowo yang bener" serius buat menjalin hubungan dengan gw...
ukan buat main-main ataupun pelarian doang....

Selasa, 17 Mei 2011

satu setengah bulan sudah terlewati...

hmm,,, 3 bulan ditangerang???
panas....
ga ada yang berubah dari kota ini sejak 2 tahun yang lalu aku pernah menginjakkan kaki di kota ini...
dulu,,, saat masih polos" nya,,,
ga tau apa" tentang kesehatan...
gw ada dikota ini untuk praktek...

sekarang,, setelah semua hal aku pelajari,, (meskipun cuma sedikit yang nyantol di kepala...hehehe)
aku juga ada disini...
di kota yang teramat panas dan menyesakkan dada...
masih untuk hal yang sama,,, "PRAKTEK"...
bosan memang,,,
karena aku tidak menyukai situasi dan kondisi sepeti ini...
tapi apa boleh buat..
ini buat masa depan aku...
dan kebahagiaan orangtuaku...

"AKU HARUS BISA MENYELESAIKAN SEMUANYA,,, PADA WAKTU YANG TEPAT!!!"

Minggu, 15 Mei 2011

merindukan kekasih yang telah lama ku nanti....

mereka telah bertemu dengan seseorang yang menjadi pendamping hidup mereka untuk selamanya...
mereka telah bertemu dengan pasangan hidup yang mereka cintai...
sedangkan aku hanya menunggu sesuatu yang  tak pasti kapan adanya...
aku menunggu seseorang yang bisa menjadi sandaran saat aku sedih, penguat saat aku lemah,, dan penunjuk jalan saat aku kehilangan arah...
aku menunggu seseorang yang bisa menemaniku saat aku mulai kehilangan keseimbangan...
aku menunggu seseorang yang bisa menjadi mata saat aku kehilangan kedua mataku..
aku menunggu seseorang yang bisa menjadi tangan saat kedua tanganku sudah tidak berfungsi dengan baik..
aku menunggu seseorang yang bisa menjadi kaki saat kedua kakiku sudah tidak dapat berdiri tegap lagi....

Sabtu, 02 April 2011

ajari aku mutiara cinta dan kecintaan, bunda..

Aug 13, '06 2:03 PM
untuk


Bunda…
malam ini aku kangen. Kangen segala nasehatmu, petuahmu dan cinta kasihmu . Yang tak jemu memanjakan aku dengan derai pancaran kasih darimu. Membelai setiap hati ini gundah. Membasuh setiap angan ini gelisah.

Bunda…
Aku ingin dengar suara bunda. Dan lebih lama menikmati untaian mutiara yang bunda tuangkan. Kerinduanku pada bunda laksana kurindukan bundaku yang telah melahirkanku. Saat ini, detik ini… aku punya kalian. Punya mutiara indah yang tak pernah jemu menyemai kerinduan dalam do'a.

Ingatkan aku selalu kepada sepenggal pengabdian terhadap sang khalik. Pada hakekat hidup yang hanya sementara ini. Ingatkanku akan arti semangat dalam sebuah perjuangan dengan mencintai kewajiban. Ajarkan aku tentang cinta dan segala kecintaan.  Kecintaan terhadap Dia yang maha segalanya. Kecintaan kepada segala dzat ciptaanya.

“Ingat, Nak! Seimbangkan hidupmu. Seimbangkan langkahmu  hab’lu minallah dan hab’lu minannas…
Keagungan Allah…
“Betapapun perkasa badanku, betapapun cemerlangnya kemampuanku, betapapun panjangnya perjalanan hidup yang telah kulalui. Aku menyadari bahwa sebenarnya diriku kecil. Penuh keterbatasan yang tidak semua mampu kutembus.  Apalah arti kesusahan yang pernah kuderita, dibanding dengan kebahagiaan yang sebenarnya pernah kualami”

“Aku semakin sadar. Bahwa tanpa mengenal susah, aku tidak akan bisa merasakan betapa senangnya memperoleh kebahagiaan. Semua ini karena Allah swt. Hanya dengan menyadari kecilnya diriku, aku bisa menjadi lebih besar. Hanya dengan menyadari kebodohan, aku menjadi lebih pandai. Hanya dengan mensyukuri nikmat-Nya aku merasa dapat lebih nikmat.

“Salam sayang dan cintaku untukmu. Telphon bunda, Nak. Kenapa harus takut?  tak cukup sms untuk bunda obati kangen ini padamu.  Kewajiban seorang ibu untuk mengaisihi putrinya, mensupport niat baiknya. Jangan bertanya kenapa bunda terlalu mencintaimu. Bukankah kau anak ibu? Dan akan terus menjadikan ibu ini bundamu?”

With love
Bunda Rini

Subhanalloh… Ya Allah… cintai bundaku...

Puisi untuk Bunda...

Dalam setiap irama tubuhmu kau selalu menyapa
Dalam kepenatan yang tak pernah terbisikkan kau selalu mendekap
Dalam kerinduan yang sangat kau tak pernah ingin lepas dariku

Usiaku kini telah berubah
Aku bukan lagi gadis kecil
Kaulah yang telah membentuk jiwa mentah ini
Kaulah yang telah mengelola emosi labil ini
menjadi lokomotif kemajuan
Kaulah yang selalu memberiku keberuntungan
dengan nasihatmu kala malam telah larut
dan gerbang mimpi siap menghampiriku

Kala yang lain terlelap
Kutahu kau tak pernah terlena
Pikiran, hati, jiwa, dan emosiku selalu bekerja demi masa depanku
Kau selalu berpacu dengan waktu
Karena kau yakin, tanpa itu bisa jadi
aku terlindas oleh jaman yang semakin keras

Kaulah pengantar luasnya pengetahuanku
Kala wadah kosa kataku hanya bagai tetesan air
Kaulah yang memenuhinya hingga menjadi sebuah lautan
Kaulah bintang berkilauku
Yang tak akan pernah terlupakan
oleh rangkaian huruf cahaya sejarah peradaban manusia

Andai aku bisa, bunda
Kan kubalas segenap cinta dan kasihmu
Andai aku mampu, bunda
Kan kupersembahkan seterang kilauanmu,
sehangat dekapanmu, setulus kasihmu,
dan sebijak nasihatmu

Kutahu, bunda
Tanganmu tak pernah lepas berharap untukku
dalam setiap do'a yang kau panjatkan
Kutahu bunda
Senyummu selalu menyapa dalam setiap kata cinta
yang keluar dari lisanmu
Kutahu bunda
Mata hatimu selalu terjaga dalam setiap derapku

Ya Allah
Kutengadahkan tanganku berharap
kau membahagiakannya sepertiku kini
Ya Rabbi
Kumemohon berilah bunda mimpi yang selalu indah
Ya Rabbul Izzati
Kuberharap padaMu anugerahkan bunda kecupan hangat
Seperti yang selalu ia berikan padaku saat aku terbangun di pagi hari
Ya Illahi
Sejahterakanlah bunda

Bunda, pelangi dan matahariku
Hari ini kuhaturkan dengan tulus padamu

para ibu yang diabadikan...

Dr. Yusuf Qardhawi

Di antara taujih Al Qur'an adalah bahwa Al Qur'an telah meletakkan di hadapan orang-orang yang beriman (laki-laki atau wanita) berbagai contoh teladan dari para ummahat shalihat, yang mempunyai pengaruh dan peran penting di dalam sejarah keimanan.

Di antaranya adalah ibu dari Nabi Musa yang memenuhi seruan wahyu Allah dan llham-Nya, lalu melemparkan buah hatinya ke dalam lautan dengan penuh ketenangan dan percaya penuh terhadap janji Rabb-nya. Allah berfirman:

"Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikan kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul." (Al Qashash: 7)

Dan ibunya Maryam yang bernadzar ingin mempunyai anak yang ikut membebaskan "Baitul Maqdist" karena Allah, bersih dari segala bentuk kemusyrikan atau 'ubudiyah kepada selain-Nya. Ia berdoa agar Allah berkenan menerima nadzarnya itu, Allah SWT berfirman:

"(Ingatlah), ketika isteri Imran berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernadzar kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis), Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (Ali 'Imran: 35)

Maka ketika anak yang baru lahir itu ternyata perempuan di luar harapan yang diinginkan, ia tetap dalam kesetiaan untuk memenuhi nadzarnya, sambil memohon kepada Allah SWT agar Allah melindunginya dari segala keburukan, Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari syetan yang terkutuk." (Ali 'Imran: 36)

Maryam puteri Imran itu adalah Ibunya Al Masih yang telah dijadikan oleh Al Qur'an sebagai lambang kesucian dan ketaatan kepada Allah serta meyakini kalimat-kalimat-Nya. Allah SWT berfirman:

"Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitab-Nya; dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat." (At-Tahrim: 12)

ada apa dengan hati...

aq ingin pergi,,,,
aq ingin menangis,,,,
aq ingin berteriak...
tapi,, apakah ada yang mendengar???

apakah ada yang akan memantapkan hati ini??
apakah ada yang akan mengikat hati ini???

aku menunggu,,, menunggu itu semua...

Sabtu, 26 Maret 2011

dia yang begitu mengagumkan...

aku menyukainya sejak awal pertama jumpa...

perkenalan dengannya,, membuat ku terpesona..

dia memang tidak tampan...
apalagi rupawan..
tapi dia mempunyai keindahan didalamnya...
sikapnya yang tegas,, tapi santai..
membuat nyaman, bila berada didekatnya...
pertemuan yang begitu singkat,,
membuatku penasaran dengan kehadirannya...
matanya,, menunjukkan keseriusannya...
sifatnya menunjukkan bahwa dia setia...

aku mengaguminya,,, seperti mengagumi seorang pria dewasa...
seperti lelaki idaman yang digilai para wanita....
kekaguman ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan...
yang tak bisa kuungkapkan...

dia memang sempurna, untuk ukuran pria...
lelaki soleh, yang diinginkan setiap wanita...
aku pun demikian mengharapkannya...
jangan tanya mengapa,,,
karena aku tak tahu,,
apa arti kekaguman ini semua.......